Daily Market Review 21 July 2014

1. GLOBAL
Market US ditutup positif di kisaran 0.73% sampai 1.57%, Dow( 17100.18), SP(1978.22), Nasdaq(4432.15)
Market Eropa ditutup mix di kisaran -0.35% sampai 0.44%
Driver:
• Kinerja Laporan keuangan kuartal kedua Emiten , melampaui ekspektasi (Google,IBM)
• Peristiwa jatuhnya pesawat Malaysia Airlines di Ukraina juga menjadi sentimen negatif untuk market Eropa
• Consumer confident index di level 81.3 lebih rendah dibanding bulan sebelumnya 82.5
• Leading Index di level 0.3% lebih rendah dari ekpektasi analis di level 0.5%.
• GDP kuartal 2 China di level 7,5% di atas ekspektasi analis 7.4%

2. DOMESTIC
IHSG ditutup naik 0.3% ke level 5.087.01
Pada perdagangan pekan kemarin indeks bergerak positif, akibat sentimen positif menjelang pengumuman resmi dari KPU mengenai hasil pemilihan Presiden pada tanggal 22 Juli 2014. Menurut harian Investor Daily hari ini, berdasarkan data yang dihimpun Beritasatu.com dari situs KPU serta hasil rekapitulasi di semua provinsi dan luar negeri hingga Minggu (20/7) pasangan capres no urut 2 mengumpulkan 53.18% suara, sedangkan rivalnya medapat 46.82% suara. Pada perdagangan pekan kemarin Asing mencatatkan total pembelian bersih sebesar Rp 2,5 Triliun. Sentimen positif lainnya datang dari penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar pada hari Jumat pekan kemarin ke posisi Rp 11.610 dibandingkan hari sebelumnya Rp 11.700. Pada tanggal 15 Juli 2014 telah dilakukan lelang SBSN SERI PBS005 dimana jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 179 miliar dan jumlah nominal yang diserap Rp 130 miliar, bid to cover ratio 1.38x dan SERI PBS006 dimana jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 145 miliar dan jumlah yang diserap Rp 115 miliar, bid to cover ratio 1.26x.
Masih tingginya minat investor terhadap SBN, mengindikasikan ke depannya perekonomian Indonesia masih akan tumbuh lebih baik.

Market Outlook :
Secara short term ekspektasi akan adanya peningkatan volatilitas di pasar terutama karena faktor ketidakpastian akan hasil pemilihan presiden 9 Juli 2014 mendatang dan juga ketidakpastian keadaan di Irak.

Secara long term, ekspektasi ke depannya fundamental Indonesia akan terus membaik seiring dengan perbaikan ekonomi Tiongkok, struktur demografi yang menguntungkan, dan arus urbanisasi yang besar terutama apabila sumber daya manusia terkelola dengan baik.
Pasca Pilpres tidak perlu dikhawatirkan karena siapa pun presidennya, pasti ada sektor yang diuntungkan

Investasi Reksa Dana sebagai salah satu solusi Investasi

Oleh : Jeane Manoi

Mungkin Anda sudah tahu apa itu reksa dana, tapi tidak ada salahnya menyegarkan anda kembali mengenai pengertian reksa dana.Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi. Portofolio Efek tersebut bisa berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, atau kombinasi dari beberapa diantaranya.
Berinvestasi di reksa dana, ibarat seperti orang yang berlari lebih cepat maka orang itu akan lebih cepat sampai tujuan, tapi dengan mengetahui bahwa ternyata resiko lari itu jatuh, maka orang tersebut akan berlari lebih waspada dengan hati-hati dan pasang
mata.

Mengapa reksa dana sebagai salah satu solusi invest
asi ?

Pada pertengahan tahun 2007, kita telah mengetahui bersama terjadinya krisis subprime mortgage atau macetnya kredit perumahan di Amerika Serikat yang memicu jatuhnya seluruh pasar saham dunia, namun ditengah-tengah kepanikan sebagian pelaku pasar dan penarikan besar-besaran, justru para investor reksa dana memanfaatkan situasi tersebut untuk menambah investasinya atau melakukan pembelian baru. Itu artinya investasi di reksa dana dapat sebagai salah satu solusi investasi dan investor reksa dana sekarang sudah lebih berorientasi jangka panjang serta lebih memahami resiko sehingga tidak mudah panik dan lebih rasional dalam
bertindak.

Keuntungan berinvestasi di Reksa Dana:
• Investasi dikelola oleh Manajer Investasi (MI) profesional dengan administrasi oleh kustodian dan diawasi secara ketat oleh Bapepam-LK (sekarang jadi OJK).
• Hasil investasi reksa dana bukan (belum) menjadi objek pajak.
• Tidak memerlukan dana yang besar, jadi terjangkau oleh semua kalangan.
• Likuiditas tinggi. Unit Penyertaan dapat dibeli atau dijual kembali setiap hari bursa melalui MI.
• Diversifikasi investasi dimaksud agar bila terjadi kerugian pada satu aset, masih bisa di cover dengan aset lain untuk menghindari kerugian maksimal.
• Transparan dalam memberikan informasi kepada investor.

Di dalam dunia investasi, banyak jenis atau bentuk investasi, jika anda memilih berinvestasi langsung di saham, anda perlu telaah ulang tingkat resiko yang terkandung (high risk) sesuai dengan tingkat resiko yang bisa anda tanggung, jangan sampai berinvestasi dalam bentuk saham memberikan rasa khawatir yang mengakibatkan susah tidur dan stres, selain itu resiko yang harus dihadapi yaitu : resiko apabila suatu saham di suspend atau diberhentikan perdagangannya oleh otoritas bursa efek dengan demikian pemodal tidak dapat menjual sahamnya. Sedangkan jika anda memilih berinvestasi langsung di instrumen pasar uang, biasanya memerlukan dana yang cukup besar, tidak dapat dicairkan setiap saat, adanya pegendapan dana selama jangkawaktu tertentu, hasil investasi menjadi objek pajak.

Sebagai penutup, cara terbaik berinvestasi di reksadana adalah membuat rencana jangka panjang, displin, hilangkan pikiran kapan saat yang tepat atau tidak tepat untuk masuk, jangan panik dan terpancing euforia pasar.

Daily Market Review 14 Juli 2014

1. GLOBAL
Market US ditutup positif di kisaran 0.15% s/d 0.44%
Market Eropa ditutup cenderung positif di kisaran 0.07% s/d 0.35%.
Driver:
• Kenaikan laba kuartalan Well Fargo perusahaan pembiayaan hipotek US sebesar 3,8% (5,27 billion USD)
• Data inflasi bulanan Jerman di level 0.3% sesuai dengan ekspektasi

2. DOMESTIC
IHSG ditutup turun 1.28% ke level 5032.60.
Driver penurunan indeks pada perdagangan Jumat kemarin antara lain akibat aksi profit taking para pelaku pasar mengingat pada hari sebelumnya indeks naik cukup tinggi sebesar 1,46%. Pada Jumat kemarin nilai tukar Rupiah terhadap Dollar ditutup di level Rp11.588 atau menguat 0.12% dibanding hari sebelumnya. Pada tanggal 8 juli 2014 telah dilakukan lelang SUN dengan rincian sbb :
1. FR0069 jumlah penawaran yang masuk sebanyak 2.38 T, jumlah yang diserap sebesar 2.35 T, rasio bid to cover 1.01x
2. FR0071 jumlah penawaran yang masuk 7.75T, jumlah yang diserap 5.6 , rasio bid to cover 1.38x
3. FR0068 jumlah penawaran yang masuk 6.67T, jumlah yang diserap sebesar 4.05 T, rasio bid to cover 1.65x
Dengan demikian, kami optimis ke depan ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi.

Market outlook :
Secara short term ekspektasi akan adanya peningkatan volatilitas di pasar mengingat masih harus menunggu hasil rilis resmi dari KPU atas pemenang pilpres kemarin, yang dijadwalkan pada tanggal 22 Juli mendatang.
Untuk nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS masih memiliki volatilitas tinggi dan memiliki kecenderungan untuk melemah.
Untuk jangka panjang ke depan setelah pilpres, setelah pemilihan presiden tidak perlu dikhawatirkan karena siapapun yang terpilih akan selalu ada sektor yang diuntungkan. Selain itu, siapapun presiden yang terpilih akan bertujuan untuk memperbaiki kondisi variabel Makroekonomi Indonesia.

1. GLOBAL
Market US ditutup negatif di kisaran -0.42% s/d -0.52%
Market Eropa ditutup cenderung negatif di kisaran -0.68% s/d -1.52%.
Driver:
• Data industrial output Perancis dan Itali yang menurun 1.7% dan 1.2%, jika dibandingkan dengan ekspektasi para analyst sebesar 2% untuk kedua negara tersebut.
• Data inflasi Perancis yang menurun ke 0.5%, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 0.7%.

2. DOMESTIC
IHSG ditutup naik 1.46% ke level 5988.01.
Yang menjadi driver penguatan IHSG adalah aksi beli terhadap seluruh lapisan saham, di mana para investor asing mencatat pembelian bersih mencapai Rp4 triliun di pasar reguler dan negosiasi. Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS juga ditutup menguat ke Rp11565 (2 hari yang lalu Rp11620 per dollar AS). Penguatan IHSG dan Rupiah dipacu setelah Joko Widodo mengungkapkan hasil rilis hitung cepat yang mayoritas menunjukkan beliau memenangkan kursi presiden. Selain itu, kemarin juga ada rilis BI rate, di mana BI rate masih dijaga tetap di 7.5%, konsisten dengan kebijakan pemerintah dalam upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4.5% ±1% untuk 2014 dan 4%±1% untuk 2015, serta untuk menurunkan defisit neraca perdagangan ke level yang lebih sehat. Dengan demikian, outlook ke depan ekonomi Indonesia optimistis akan lebih baik lagi.

Market Outlook :
Secara short term ekspektasi masih akan adanya peningkatan volatilitas di pasar mengingat masih harus menunggu hasil rilis resmi dari KPU atas pemenang pilpres kemarin, yang dijadwalkan pada tanggal 22 Juli mendatang.
Untuk jangka panjang ke depan setelah pilpres, setelah pemilihan presiden tidak perlu dikhawatirkan karena siapapun yang terpilih akan selalu ada sektor yang diuntungkan ditambah dengan membaiknya ekonomi Indonesia.

Daily Market Review 11 Juli 2014

1. GLOBAL
Market US ditutup negatif di kisaran -0.42% s/d -0.52%
Market Eropa ditutup cenderung negatif di kisaran -0.68% s/d -1.52%.
Driver:
• Data industrial output Perancis dan Itali yang menurun 1.7% dan 1.2%, jika dibandingkan dengan ekspektasi para analyst sebesar 2% untuk kedua negara tersebut.
• Data inflasi Perancis yang menurun ke 0.5%, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 0.7%.

2. DOMESTIC
IHSG ditutup naik 1.46% ke level 5988.01.
Yang menjadi driver penguatan IHSG adalah aksi beli terhadap seluruh lapisan saham, di mana para investor asing mencatat pembelian bersih mencapai Rp4 triliun di pasar reguler dan negosiasi. Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS juga ditutup menguat ke Rp11565 (2 hari yang lalu Rp11620 per dollar AS). Penguatan IHSG dan Rupiah dipacu setelah Joko Widodo mengungkapkan hasil rilis hitung cepat yang mayoritas menunjukkan beliau memenangkan kursi presiden. Selain itu, kemarin juga ada rilis BI rate, di mana BI rate masih dijaga tetap di 7.5%, konsisten dengan kebijakan pemerintah dalam upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4.5% ±1% untuk 2014 dan 4%±1% untuk 2015, serta untuk menurunkan defisit neraca perdagangan ke level yang lebih sehat. Dengan demikian, outlook ke depan ekonomi Indonesia optimistis akan lebih baik lagi.

Market Outlook :
Secara short term ekspektasi masih akan adanya peningkatan volatilitas di pasar mengingat masih harus menunggu hasil rilis resmi dari KPU atas pemenang pilpres kemarin, yang dijadwalkan pada tanggal 22 Juli mendatang.
Untuk jangka panjang ke depan setelah pilpres, setelah pemilihan presiden tidak perlu dikhawatirkan karena siapapun yang terpilih akan selalu ada sektor yang diuntungkan ditambah dengan membaiknya ekonomi Indonesia.

Daily Market Review 25 Juni 2014

1. GLOBAL
Market US ditutup flat cederung negatif di kisaran -0.42% sampai -0.7%
Market Eropa ditutup flat cenderung mix di kisaran -0.2% sampai 0.17%
Driver:
• Data Penjualan rumah baru pada bulan Mei naik 18,6 % ke level 504.000 unit diatas ekspektasi analis dilevel 440.000.
• Consumer Confidence bulan Juni meningkat ke level 85.2 diatas ekspektasi di level 83.
• Kekwawatiran terhadap kekerasan di Irak dan kenaikan harga minyak dunia
• Indeks Iklim bisnis Jerman bulan Juni mengalami penurunan ke level 110.4 dibandingkan bulan sebelumnya di level 111.2.

2. DOMESTIC
IHSG ditutup menguat sebesar 0.42% ke level 4.862.24. Dimana Asing Net buy sebesar Rp 119 miliar.
Penguatan IHSG kemarin dipicu oleh teknikal rebound setelah beberapa hari indeks mengalami penurunan. Pada pelelangan SBN kemarin tercatat jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 13. 8 T, dimana yang terserap sebanyak Rp 8,3 T, bi to cover ratio sebesar 1,6 x. Dimana penawaran yang masuk cukup besar pada SUN dengan tenor waktu jatuh tempo jangka panjang, selain karena memberikan imbal hasil yang relatif cukup tinggi, dan juga ini mengindikasikan para investor masih percaya kedepannya perekonomian Indonesia akan semakin membaik.

Conclusion & Recommendation:
Secara long term, ekspektasi ke depannya fundamental Indonesia akan terus membaik seiring dengan perbaikan ekonomi Tiongkok, struktur demografi yang menguntungkan, dan arus urbanisasi yang besar terutama apabila sumber daya manusia terkelola dengan baik.
Namun secara short term kita mengekspektasikan adanya peningkatan volatilitas di pasar terutama karena faktor ketidakpastian akan hasil pemilihan presiden 9 Juli 2014 mendatang dan juga ketidakpastian keadaan di Irak. Karena itu, bagi investor yang tidak ingin terexpose terlalu besar pada volatilitas di pasar bisa disarankan untuk memanfaatkan ETF broad index kita, ETF R-LQ45X dan ETF XIIT.
Opsi lainnya adalah untuk masuk RPCF bagi yang mempunyai strategi untuk meminimalkan risiko volatilitas yang tinggi dengan memanfaatkan alokasi asset yang optimal.

Bagi investor yang ingin memanfaatkan efek seasonal menjelang lebaran, investor bisa disarankan masuk XIIC karena sektor konsumer yang akan diuntungkan ketika masyarakat Indonesia akan menambah kegiatan konsumsi mereka untuk mempersiapkan kebutuhan pada bulan Ramadhan mendatang. Diperkirakan sektor konsumsi ini akan terjadi proyeksi peningkatan permintaan sebesar 20 – 30 persen periode 2 bulan sebelum Lebaran hingga 2 minggu setelah Lebaran. Ditunjang daya beli masyarakat yang sudah mulai meningkat dibanding tahun lalu yang sempat turun akibat kenaikan harga BBM.

Untuk jangka panjang, para investor tidak perlu khawatir karena siapa pun presidennya, pasti ada sektor yang diuntungkan;
Jika yang terpilih adalah capres no. 2 maka investor bisa disarankan untuk masuk XISI kita. Karena sejauh ini kita lihat rencana program capres tersebut terus menekankan pada pembangunan infrastruktur Indonesia dan komitmen beliau pada sektor infrastruktur, antara lain dengan tol laut yang terus beliau tekankan pada kesempatan debat capres, pembangunan 2,000km jalan baru (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua), 10 pelabuhan baru, airport dan kawasan industri.
Selain itu kita masih melihat bahwa sektor infrastruktur di Indonesia masih mempunyai potensi yang sangat besar karena 5 tahun terakhir competitiveness infrastruktur kita naik 14 ranking dari ranking 96 tahun 2008 menjadi ranking 82 pada tahun 2013. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, alokasi pembiayaan infrastruktur terhadap PDB Indonesia masih hanya sebesar 2%, dimana negara-negara tetangga sekitar 4-5% terhadap PDB. Dengan masih besarnya potensi infrastruktur di Indonesia untuk dibangun dan disupport dengan presiden yang pro-infrastruktur, maka kita ekspektasikan ETF XISI kita berpotensi untuk mencetak imbal hasil yang signifikan. Terlebih lagi, Indonesia masih memiliki banyak wilayah potensial yang belum tersentuh, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang memiliki lahan lebih sedikit.

Sebaliknya jika yang terpilih adalah capres no.1, maka investor bisa disarankan untuk masuk ETF XIJI kita yang dimana mempunyai eksposur ke Mining & Energy 7.18% dan Agri 2.95%. Karena kalau kita lihat rencana program capres no.1 tersebut menekankan untuk pembangunan dalam sektor pertanian dan agribisnis, serta mining & energi agar menjadi value-added bagi Indonesia, sehingga bisa menekan laju impor. Program-programnya mencakup seperti pembangunan perbankan untuk sektor agri, mencetak 2juta hektar lahan baru untuk produksi pangan, dan membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi & air dengan kapasitas 10,000MW dan melaksanakan penyediaan listrik nasional mencapai 100% sampai tahun 2019. Kebutuhan listrik Indonesia mencapai 8.4% per tahun, sementara Indonesia masih memiliki cadangan batu bara yang besar, sehingga apabila batu bara tersebut dapat dikonversikan untuk kebutuhan listrik, akan meningkatkan permintaan batu bara dalam negeri. Sektor infrastruktur juga akan diuntungkan, karena beliau mencanangkan percepatan pembangunan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan ekonomi utama dengan pengalokasian dana sebesar 10.32% dari total belanja negara periode 2015 -2019. Contohnya seperti alokasi anggaran 1 Miliar/desa untuk pengembangan infrastruktur (total 75.244 desa), pembangunan rel kereta api total 4000 km.
Oleh karena itu, dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia, sektor – sektor lainnya seperti emiten –emiten berbasis konsumsi juga akan diuntungkan, karena sekitar 17 persen dari total pengeluaran perusahaan berasal dari beban biaya logistik dan transportasi yang tinggi.

Sebagai tambahan, untuk investor yang percaya bahwa kondisi makroekonomi Indonesia akan berubah seiring dengan terpilihnya presiden dan jajaran pemerintahan yang baru dan ingin diuntungkan dengan setiap perubahan makroekonomi variabel tersebut bisa disarankan untuk masuk Makroplus.

Daily Market Review 24 Juni 2014

1. GLOBAL
Market US ditutup flat cederung negatif di kisaran -0.06% sampai -0.01%
Market Eropa ditutup flat cenderung negatif di kisaran -0.36% sampai 0.67%
Driver:
• Market Eurozone Composite PMI berada di level 52.8 ( periode sebelumnya 53.5)
• HSBC China Manufacturing PMI berada di 50.8 ( periode sebelumnya 49.4, survey di 49.7)
• PMI AS yang naik ke 57.5 ( di atas ekspektasi sebesar 56.4)

2. DOMESTIC
IHSG ditutup flat cenderung negatif 0,11% ke level 4.842,13.
Respon negatif berasal dari pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih relatif melemah. Para investor juga masih wait and see jelang rilis laporan keuangan emiten-emiten pada semester pertama 2014, yang rencananya akan mulai dirilis pada minggu depan. Ketegangan geopolitik, walaupun sudah berangsur mereda juga masih turut membebani pergerakan IHSG hari kemarin. Namun, para investor tidak perlu khawatir ke depannya atas adanya ancaman kenaikan harga minyak dunia yang bisa berdampak terhadap defisit neraca perdagangan yang bisa melebar, karena pemerintah sedang mengupayakan berbagai cara seperti menggenjot target penerimaan pajak tahun ini, termasuk dengan menahan restitusi.

Conclusion & Recommendation:
Secara long term, ekspektasi ke depannya fundamental Indonesia akan terus membaik seiring dengan perbaikan ekonomi Tiongkok, struktur demografi yang menguntungkan, dan arus urbanisasi yang besar terutama apabila sumber daya manusia terkelola dengan baik.
Namun secara short term kita mengekspektasikan adanya peningkatan volatilitas di pasar terutama karena faktor ketidakpastian akan hasil pemilihan presiden 9 Juli 2014 mendatang dan juga ketidakpastian keadaan di Irak. Karena itu, bagi investor yang tidak ingin terexpose terlalu besar pada volatilitas di pasar bisa disarankan untuk memanfaatkan ETF broad index kita, ETF R-LQ45X dan ETF XIIT.
Opsi lainnya adalah untuk masuk RPCF bagi yang mempunyai strategi untuk meminimalkan risiko volatilitas yang tinggi dengan memanfaatkan alokasi asset yang optimal.
Bagi investor yang ingin memanfaatkan efek seasonal menjelang lebaran, investor bisa disarankan masuk XIIC karena sektor konsumer yang akan diuntungkan ketika masyarakat Indonesia akan menambah kegiatan konsumsi mereka untuk mempersiapkan kebutuhan pada bulan Ramadhan mendatang. Diperkirakan sektor konsumsi ini akan terjadi proyeksi peningkatan permintaan sebesar 20 – 30 persen periode 2 bulan sebelum Lebaran hingga 2 minggu setelah Lebaran. Ditunjang daya beli masyarakat yang sudah mulai meningkat dibanding tahun lalu yang sempat turun akibat kenaikan harga BBM.
Untuk jangka panjang, para investor tidak perlu khawatir karena siapa pun presidennya, pasti ada sektor yang diuntungkan;
Jika yang terpilih adalah capres no. 2 maka investor bisa disarankan untuk masuk XISI kita. Karena sejauh ini kita lihat rencana program capres tersebut terus menekankan pada pembangunan infrastruktur Indonesia dan komitmen beliau pada sektor infrastruktur, antara lain dengan tol laut yang terus beliau tekankan pada kesempatan debat capres, pembangunan 2,000km jalan baru (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua), 10 pelabuhan baru, airport dan kawasan industri.
Selain itu kita masih melihat bahwa sektor infrastruktur di Indonesia masih mempunyai potensi yang sangat besar karena 5 tahun terakhir competitiveness infrastruktur kita naik 14 ranking dari ranking 96 tahun 2008 menjadi ranking 82 pada tahun 2013. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, alokasi pembiayaan infrastruktur terhadap PDB Indonesia masih hanya sebesar 2%, dimana negara-negara tetangga sekitar 4-5% terhadap PDB. Dengan masih besarnya potensi infrastruktur di Indonesia untuk dibangun dan disupport dengan presiden yang pro-infrastruktur, maka kita ekspektasikan ETF XISI kita berpotensi untuk mencetak imbal hasil yang signifikan. Terlebih lagi, Indonesia masih memiliki banyak wilayah potensial yang belum tersentuh, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang memiliki lahan lebih sedikit.
Sebaliknya jika yang terpilih adalah capres no.1, maka investor bisa disarankan untuk masuk ETF XIJI kita yang dimana mempunyai eksposur ke Mining & Energy 7.18% dan Agri 2.95%. Karena kalau kita lihat rencana program capres no.1 tersebut menekankan untuk pembangunan dalam sektor pertanian dan agribisnis, serta mining & energi agar menjadi value-added bagi Indonesia, sehingga bisa menekan laju impor. Program-programnya mencakup seperti pembangunan perbankan untuk sektor agri, mencetak 2juta hektar lahan baru untuk produksi pangan, dan membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi & air dengan kapasitas 10,000MW dan melaksanakan penyediaan listrik nasional mencapai 100% sampai tahun 2019. Kebutuhan listrik Indonesia mencapai 8.4% per tahun, sementara Indonesia masih memiliki cadangan batu bara yang besar, sehingga apabila batu bara tersebut dapat dikonversikan untuk kebutuhan listrik, akan meningkatkan permintaan batu bara dalam negeri. Sektor infrastruktur juga akan diuntungkan, karena beliau mencanangkan percepatan pembangunan infrastruktur dasar untuk mendukung kegiatan ekonomi utama dengan pengalokasian dana sebesar 10.32% dari total belanja negara periode 2015 -2019. Contohnya seperti alokasi anggaran 1 Miliar/desa untuk pengembangan infrastruktur (total 75.244 desa), pembangunan rel kereta api total 4000 km.
Oleh karena itu, dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia, sektor – sektor lainnya seperti emiten –emiten berbasis konsumsi juga akan diuntungkan, karena sekitar 17 persen dari total pengeluaran perusahaan berasal dari beban biaya logistik dan transportasi yang tinggi.
Sebagai tambahan, untuk investor yang percaya bahwa kondisi makroekonomi Indonesia akan berubah seiring dengan terpilihnya presiden dan jajaran pemerintahan yang baru dan ingin diuntungkan dengan setiap perubahan makroekonomi variabel tersebut bisa disarankan untuk masuk Makroplus.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.746 pengikut lainnya.